KEWIRAUSAHAAN
Pengertian Kewirausahaan
Raymond Kao dalam buku berjudul Defining Entrepreneurship menyatakan bahwa entrepreneur adalah orang yang menciptakan kemakmuran dan proses peningkatan nilai tambah, melalui inkubasi gagasan, memadukan sumber daya dan membuat gagasan menjadi kenyataan. Sedangkan entrepreneurship (kewirausahaan) menurut Kao adalah suatu proses melakukan sesuatu yang baru dan berbeda dengan tujuan menciptakan kemakmuran bagi individu dan memberi nilai tambah pada masyarakat.
Definisi yang dibuat Kao menunjukkan secara jelas unsur–unsur yang membedakan entrepreneur dengan orang lain, yakni adanya gagasan baru (inovasi), keberanian mengambil risiko, penciptaan nilai tambah, dan yang terpenting, ditujukan bagi kemakmuran masyarakat luas. Sesuatu yang mulia bukan
Untuk memudahkan, barangkali akan lebih baik jika kita cukup mengingat lima ciri seorang entrepreneur unggulan (excellent entrepreneur), yakni:
1. Berani mengambil risiko.
Artinya, berani memulai sesuatu yang serba tidak pasti dan penuh risiko. Tentu tidak semua risiko diambil melainkan risiko yang telah diperhitungkan dengan cermat (calculated risk).
2. Menyukai tantangan.
Segala sesuatu dilihat sebagi tantangan, bukan masalah. Perubahan yang terus terjadi dan jaman yang serba edan menjadi motivasi kemajuan bukan menciutkan nyali seorang entrepreneur unggulan. Dengan demikian, seorang entrepreneur akan terus memacu dirinya untuk maju, mengatasi segala hambatan.
3. Punya daya tahan yang tinggi.
Seorang entreprenur harus banyak akal (bukan akal–akalan) dan tak mudah putus asa. Ia harus selalu mampu bangkit dari kegagalan dan tekun.
4. Punya visi jauh ke depan.
Segala yang dilakukannya punya tujuan jangka panjang meski dimulai dengan langkah yang amat kecil. Ia punya target untuk jangka waktu tertentu.
5. Selalu berusaha memberikan yang terbaik.
Entrepreneur akan mengerahkan semua potensi yang dimilikinya. Jika itu dirasa kurang, maka ia akan merekrut orang–orang yang lebih berkompeten agar dapat memberikan yang terbaik kepada pelanggannya.
Tidak semua perubahan akan membawa perbaikan, tapi tanpa perubahan tidak akan pernah ada perbaikan. Untuk melakukan perubahan, diperlukan keberanian. Menurut Zimmerer, ide-ide yang berasal dari wirausaha dapat menciptakan peluang untuk memenuhi kebutuhan riil di pasar. Ide-ide itu menciptakan nilai potensial di pasar sekaligus menjadi peluang usaha. Dalam mengevaluasi ide untuk menciptakan nilai-nilai potensial (peluang usaha), wirausaha perlu mengidentifikasi dan mengevaluasi semua resiko yang mungkin terjadi dengan cara :
1. Mengurangi kemungkinan resiko melalui strategi yang proaktif
2. Menyebarkan resiko pada aspek yang paling mungkin
3. Mengelola resiko yang mendatangkan nilai atau manfaat
Kreativitas sering kali muncul dalam bentuk ide untuk menghasilkan barang dan jasa baru. Ide bukanlah peluang dan tidak akan muncul bila wirausaha tidak mengadakan evaluasi dan pengamatan secara terus menerus.
KIAT KIAT MENJADI WIRAUSAHA
I. Kiat-Kiat Menjadi Wirausaha
Pengertian wirausaha terdiri dari dua suku kata : wira dan usaha. Wira berarti orang yang gagah berani, teladan, berbudi luhur,berjiwa besar, pemimpin. Usaha berarti berbuat sesuatu, melaksanakan, mengorganisir,untuk mencapai suatu tujuan.
Kewirausahaan adalah cara berpikir dan berbuat untuk menemukan peluang-peluang baru yang dapat memberikan manfaat bagi dirinya dan masyarakat. Kewirausahaan bukan keturunan akan tetapi dapat dihasilkan melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan meliputi dua aspek yaitu pendidikan mental dan kemampuan atau keahlian. Sikap mental dan kemampuan yang harus dimiliki :
1. Bersifat visioner, dapat melihat jauh kedepan. Dengan mempelajari lingkungan dan perubahan-perubahannya sehingga dapat menemukan peluang-peluang baru.
2. Kreatif dan Inovatif, yaitu kemampuan untuk menemukan cara baru baik dalam memproduksi, memasarkan produk, dengan selalu mengajukan pertanyaan apakah dapat dirubah prosesnya, bentuknya, penampilannya, ukurannya. Sifat kreatif dan inovatif selalu mencari kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih baik, lebih bermanfaat. Sehingga dengan sifat kreatif dan inovatif dapat menemukan peluang-peluang baru yang lebih bermanfaat.
3. Berorientasi kepada kepuasan konsumen. Seorang wirausaha selalu memperhatikan kepuasan konsumen sehingga karena sikapnya konsumen menjadi pelanggan tetap.
4. Berorientasi kepada laba dan pertumbuhan. Laba merupakan sarana untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan, pemilik perusahaan, untuk perluasan usaha. Dimata seorang wirausaha laba dianggap sebagai hasil dari kreativitas dan inovasi.
5. Berani menanggung risiko, seorang wirausaha akan mengelola risiko dengan penuh perhitungan. Risiko yang terlalu besar akan dihindari hanya risiko yang telah diperhitungkan yang akan dijalani.
6. Berjiwa kompetisi. Seorang wirausaha menganggap persaingan sebagai suatu hal yang normal dan akan berusaha untuk memenangkan persaingan dengan menghasilkan produk yang terbaik dengan biaya yang efisien.
7. Cepat tanggap dan gerak cepat. Dalam pandangan seorang wirausaha yang pasti adalah ketidakpastian dan yang tetap adalah perubahan.
8. Berwirausaha sebagai bagian dari ibadah. Kepuasan seorang wirausaha apabila usahanya menciptakan lapangan kerja, penghasilan baru, menerapkan inovasi sehingga produk/jasa yang dihasilkan memuaskan pelanggan.
II. Kesalahan Berpikir yang Haus Dihindari oleh Calon Wirausaha
1. Mitos/Anggapan “Terlalu muda untuk menjadi wirausaha”.
2. Mitos/Anggapan ”Terlalu tua untuk menjadi wirausaha”.
3. Mitos/Anggapan ”Tidak punya modal”.
4. Mitos/Anggapan ”Tidak punya pengetahuan/pendidikan”.
5. Mitos/Anggapan ”Tidak punya bakat”.
6. Mitos/Anggapan ”Tidak mempunyai garis keturunan”.
7. Mitos/Anggapan ”Takut gagal”.
III. Kiat-Kiat untuk Mengindari Kegagalan dan Memperbesar Kesuksesan Dalam Usaha (Untuk UKM)
• Usaha mendirikan perusahaan sering dihadapkan kepada dua kemungkinan yaitu kegagalan dan keberhasilan.
• Salah satu sifat seorang wirausaha dapat menyikapi kegagalan dengan memperhatikan faktor-faktor penyebabnya.
• Faktor-faktor penyebab kegagalan dapat bersumber dari dalam/internal atau dari luar/eksternal.
• Faktor-faktor Internal antara lain :
1. Ketidaktelitian/ketidakcermatan
2. Kecerobahan
3. Kelalaian
4. Tergesa-gesa memutuskan
5. Tidak mau belajar dari kegagalan orang lain
6. Terlalu mudah percaya pada orang lain, dan lain-lain
• Faktor kegagalan yang berasal dari luar/eksternal :
1. Sumber daya yang tidak memadai, baik kualitas maupun kuantitas
2. Bencana alam
3. Kenaikan harga barang-barang yang tidak terduga
4. Pengaruh ekonomi global
5. Perubahan kebijakan pemerintah dalam berbagai hal, dan lain-lain.
• Cara positif memandang kegagalan :
1. Kegagalan adalah pelajaran berharga untuk tidak diulangi lagi
2. Kegagalan harus dapat menjadi motivasi agar mau maju terus
3. Anggaplah kegagalan itu sebagai sukses yang tertunda
4. Percayalah wirausaha-wirausaha sukses pasti pernah mengalami kegagalan, tetapi mempunyai kemampuan untuk bangkit kembali.
5. Kegagalan harus dijadikan bahan evaluasi diri dan dikaji sebab-sebanya, lalu disusun strategi untuk meminimalkan kegagalan, dan lain-lain.
• Strategi menyiasati kegagalan adalah dengan mengadakan perencanaan usaha yang cermat mengenai :
1. Perkembangan pasar
2. Persaingan
3. Sumberdaya manusia
4. Teknologi
5. Proses produksi
6. Keuangan, rugi-laba, arus kas.
7. Pasokan bahan baku, dan lain-lain
VI. Kesimpulan Mengenai Kewirausahaan
1. Kewirausahaan bukan bakat atau keturunan, juga bukan mistik. Kewirausahaan bisa dihasilkan.
2. Kewirausahaan bermanfaat bukan saja bagi seseorang yang membuka usaha tetapi juga bagi seorang karyawan, manajer, pegawai pemerintah. Karena mempraktekkan kewirausahaan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bukan saja bagi dirinya tetapi bagi semua yang berkepentingan.
3. Indonesia memerlukan wirausaha-wirausaha baru, setiap tahunnya. diperkirakan diperlukan empat juta wirausaha, sehingga tercipta 40 juta lapangan kerja dan kenaikan pendapatan perkapita sepuluh kali lipat dari
sekarang.
4. Kewirausahaan bukan sekedar keterampilan, atau penguasaan teknologi. Tetapi lebih bersifat masalah mental yang terbentuk melalui proses, pengalaman dan tantangan.
5. Menjadi wirausaha tidak dapat disuruh atau berdasarkan instruksi tetapi berdasarkan motivasi dari dalam diri yang dipicu karena ada pendidikan/pelatihan, penyediaan dan infrastruktur termasuk perundang-undangan yang memfasilitasi tumbuhnya usaha-usaha baru.
S.I.T.I
Definisi
Secara formal, Lederer dan Sethi dalam ‘The Implementation of Strategic Information Systems Planning Methodologies’ (1988) mendefinisikan IT strategic planning sebagai suatu proses menentukan tujuan organisasi/perusahaan dan mengidentifikasi aplikasi potensial yang perlu diimplementasikan oleh organisasi/perusahaan tersebut.
Alignment Model
Keterkaitan SI/TI dengan Strategi
Tujuan
memperoleh dan menjaga keuntungan kompetitif atau posisi (citra) di mata masyarakat.
Kenapa harus ada Strategi?
• Untuk mengidentifikasi dimana SI/TI dapat berkontribusi paling besar sehingga dapat ditentukan prioritas dalam berinvenstasi.
• Untuk meningkatkan competitive advantage dari peluang bisnis yang dibuat dengan menggunakan SI/TI.
• Membangun sebuah cost-effective.
• Mengembangkan sumber daya dan kompetensi yang sesuai untuk mengimplementasikan SI/TI dengan sukses dalam organisasi.
Kita sudah punya Formulasi Strategi SI/TI..
SO WHAT??
Kita perlu Manajemen Strategi!
Kenapa perlu Manajemen?
• memastikan strategi - strategi SI/TI, berbagai kebijakan dan rencana – rencana mencerminkan tujuan bisnis serta benar – benar strategis;
• memastikan keuntungan - keuntungan bisnis yang potensial akibat penggunaan SI/TI teridentifikasi dan tereksploitasi;
• memastikan strategi – strategi dapat terus berjalan apabila dipandang dari segi resiko bisnis yang dijalankan;
Rubrik Tanya Jawab Eka Tjipta Widjaja
Nama Eka Tjipta Widjaja dikenal di dunia sebagai seorang pengusaha yang sukses, di keluarga besar Sinar Mas, beliau dikenal sebagai seorang pemimpin sejati yang pantang menyerah. Kami, tim pelaksana harian Eka Tjipta Foundation, mengenal beliau sebagai seorang dermawan yang idealis, teguh dan penuh semangat.
T: Mohon secara singkat ceritakan sedikit sejarah hidup Bapak.
Saya memulai karir saya dari tangan kosong. Saat itu keluarga kami hidup di kampung, dengan keadaan yang sangat susah. Kami setiap hari hanya bisa makan bubur dengan ubi. Karena keadaan yang sulit ini, saya tidak bisa menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, karena saya harus membantu orang tua untuk mencukupi kebutuhan hidup kita sehari-hari.
T: Kesulitan apa saja yang pernah Bapak alami?
Waktu saya baru mulai dagang, keadaan di kampung saat itu tidak seperti sekarang, masih banyak jalan-jalan yang sulit dilewati sepeda, tidak jarang saya terpaksa memikul sepeda di bahu ketika berdagang keliling.
T: Apa saja prinsip-prinsip kehidupan Pak Eka?
Jujur, menjaga kredibilitas, tanggung jawab, baik terhadap keluarga, pekerjaan maupun terhadap sosial. Hidup hemat dan tidak berfoya-foya. Bila kita hidup hemat, uang yang ditabung bisa digunakan untuk membantu orang lain yang membutuhkan.
T:Pendapat Pak Eka mengenai kehidupan sosial masyarakat Indonesia sekarang?
Saya menghimbau semua lapisan masyarakat untuk rajin dan tekun bekerja dan menabung untuk mencapai taraf hidup yang sejahtera.
T: Pesan-pesan Bapak terhadap generasi muda penerus bangsa?
Saya harap generasi muda sekarang rajin bekerja dan berkonsentrasi dalam menyelesaikan tugas. Pantang menyerah bila ada kesulitan apa pun dan jangan lupa kita perlu bantuan orang lain, kita tidak bisa berhasil hanya dengan bekerja sendiri.
Profil
Eka Tjipta Widjaja
Lahir 3 Oktober 1922
hijrah ke Makasar tahun 1931
Di usia 9 tahun, menemukan konsep door to door selling, menjajakan produk toko eceran milik orang tua
1938:Usia 15 tahun jiwa entrepreneurship semakin tumbuh, bermodalkan jaminan ijazah SD, berdagang kecil-kecilan seperti biskuit dan permen, hingga tahun 1941
1942 - 1945: Berdagang barang bekas sisa peledakan pelabuhan semen oleh tentara Belanda, melirik bisnis terigu dan berkembang menjadi pemborong rumah kuburan mulai menggeluti bisnis minyak kelapa dengan bermodalkan 4.000 kaleng minyak kelapa, namun bisnis ini gagal karena peraturan monopoli perdagangan minyak oleh tentara Jepang beralih ke home industry kembang gula, kacang ting-ting hasil keuntungan dibuat investasi tanah.
1945 – 1949: Usaha grosir produk makanan dan sebagai rekanan CIAD (Corps Intendans Angkatan Darat / TNI)
1950 – 1955: Pedagang kopra (bahan baku minyak kelapa)
1957: Berdagang hasil bumi, dari Surabaya dijual ke Manado, dari Manado menjual kopra dan buah pala ke Makasar, dan pada Juni 1957 memiliki 4.000 ton kopra
1960: Hijrah ke Surabaya, memiliki kebun kopi dan kebun karet di Jember pabrik minyak kelapa dan penggilingan padi di Ciluas, Serang, karena kegiatan PKI perusahaan merugi, perusahaan dijual separuh harga mendirikan CV Sinar Mas, melakukan ekspor hasil bumi dan impor tekstil
Tahun berikutnya: mendirikan Tjiwi Kimia yang bergerak dibidang bahan kimia yang kemudian berkembang menjadi pabrik kertas mendirikan pabrik pulp Indah Kiat (Tangerang), berikutnya, mendirikan perkebunan kelapa sawit, mengambil alih bank dan seterusnya.
Jujur , menjaga kredibilitas, tanggung jawab, baik terhadap keluarga, pekerjaan ataupun social, hidup hemat dan tidak berfoya-foya mungkin adalah kunci sukses tokoh bisnis yang satu ini, yang bisa dicontoh oleh siapapun, termasuk oleh kita.
Mulai membangun Asia Pulp and Paper ( APP), yang pada tahun 2001 jumlah total asetnya mencapai $10 triliun. Eka Tjipta Widjaya berhasil membangun kerajaan bisnisnya dengan mendirikan 200 perusahaan di Indonesia, Singapura, Cina serta India.
Setelah puluhan tahun membangun bisnisnya, kini Eka Tjipta Widjaja mewariskan nya sejumlah bidang usaha kepada anak- anaknya. Kini anak – anak Eka meneruskan usahanya melalui perusahaan yang bernama Sinar Mas. Eka Tjipta sendiri tercatat ditaksir memiliki kekayaan senilai $ 2,8 miliar. Pantaslah bila Majalah Forbes Asia, Edisi Desember 2007, Menempatkannya pada urutan ke -5 dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia.
JUST-IN-TIME ( JIT )
1. Pengertian JIT
Dalam pengertian luas, JIT adalah suatu filosofi tepat waktu yang memusatkan pada aktivitas yang diperlukan oleh segmen-segmen internal lainnya dalam suatu organisasi.
JIT mempunyai empat aspek pokok sebagai berikut:
1. Semua aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap produk atau jasa harus di eliminasi. 2. Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan mutu yang lebih tinggi.
3. Selalu diupayakan penyempurnaan yang berkesinambungan (Continuous Improvement)dalam meningkatkan efisiensi kegiatan.
4. Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan meningkatkan pemahaman terhadap aktivitas yang bernilai tambah.
JIT dapat diterapkan dalam berbagai bidang fungsional perusahaan seperti misalnya pembelian, produksi, distribusi, administrasi dan sebagainya.
A. Pembelian JIT
Pembelian JIT adalah sistem penjadwalan pengadaan barang dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan penyerahan segera untuk memenuhi permintaan atau penggunaan.
B. Produksi JIT
Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan pelanggan.
2. Pemanufakturan JIT dan Penentuan Biaya Produk
Pemanufakturan JIT menggunakan pendekatan yang lebih memusat daripada yang ditemui dalam pemanufakturan tradisional.Penggunaan sistem pemanufakturan JIT mempunyai dampak pada:
1. Meningkatkan Keterlacakan (Ketertelusuran) biaya.
2. Meningkatkan akurasi penghitungan biaya produk.
3. Mengurangi perlunya alokasi pusat biaya jasa (departemen jasa)
4. Mengubah perilaku dan relatif pentingnya biaya tenaga kerja langsung.
5. Mempengaruhi sistem penentuan harga pokok pesanan dan proses.
Dasar-dasar pemanufakturan JIT dan perbedaannya dengan pemanufakturan tradisional:
2.1. JIT Dibandingkan dengan Pemanufakturan Tradisional.
Pemanufakturan JIT adalah sistem tarikan permintaan (Demand-Pull). Tujuan pemanufakturan JIT adalah memproduksi produk hanya jika produk tersebut dibutuhkan dan hanya sebesar jumlah permintaan pembeli (pelanggan).
2.2. JIT dan Ketertelusuran Biaya Overhead
Dalam lingkungan JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan bersama untuk lebih dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke satu produk tunggal. Manufaktur yang berbentuk sel-sel, tanaga kerja yang terinterdisipliner, dan aktivitas jasa yang terdesentralisasi adalah karakteristik utama JIT.
JIT TRADISIONAL
Sistem Pull-through
Persediaan tidak signifikan
Sel-sel pemanufakturan
Tenaga kerja terinterdisipliner
Pengendalian mutu (TQC)
Dsentralisasi jasa Sistem Push-through
Persediaan signifikan
Berstruktur departemen
Tenaga kerja terspesialisasi
Level mutu akseptabel (AQL)
Sentralisasi jasa
2.3. Keakuratan Penentuan Biaya Produk dan JIT
Salah satu konsekuensi dari penurunan biaya tidak langsung dan kenaikan biaya langsung adalah meningkatkan keakuratan penentuan biaya (Harga Pokok Produk).
2.4. JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa
Dalam manufaktur tradisional, sentralisasi pusat-pusat jasa memberikan dukungan pada berbagai departemen produksi.
2.5. Pengaruh JIT pada Biaya Tenaga Kerja Langsung
Sebagai perusahaan yang menerapkan JIT dan otomatisasi, biaya tenaga kerja langsung tradisional dikurangi secara signifikan.
2.6. Pengaruh JIT pada Penilaian Persediaan
Salah satu masalah pertama akuntansi yang dapat dihilangkan dengan penggunaan pemanufakturan JIT adalah kebutuhan untuk menentukan biaya produk dalam rangka penilaian persediaan.
2.7. Pengaruh JIT pada Harga Pokok Pesanan
Dalam penerapan JIT untuk penentuan order pesanan, pertama, perusahaan harus memisahkan bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari pesanan khusus.Selanjutnya, sel-sel pemanufakturan dapat dibentuk untuk bisnis berulang-ulang.
2.8. Penentuan Harga Pokok Proses dan JIT
Dalam metode proses, perhitungan biaya per unit akan menjadi lebih rumit karena adanya persediaan barang dalam proses.
2.9. JIT dan Otomasi
Sejak sistem JIT digunakan, biasanya hanya menunjukkan kemungkinan otomasi dalam beberapa hal.
2.10. Penentuan Harga Pokok Backflush
Penentuan harga pokok backflush mengeliminasi rekening barang dalam proses dan membebankan biaya produksi secara langsung pada produk selesai.
3. Analisis Biaya-Volume-Laba
3.1 Analisis CPV Konvensional
Analisis biaya-volume-laba (CPV) konvensional menganggap bahwa semua biaya, produksi dan non produksi, dap[at digolongkan ke dalam dua kelompok yaitu:
a. Biaya yang bervariasi dengan volume, disebut biaya variabel
b. Biaya yang tidak bervariasi dengan volume, disebut biaya tetap.
Dalam anlisis tersebut biaya dianggap sebagai fungsi linier volume penjualan sehingga persamaannya adalah:
L = P - B Dalam hal ini:
P = H X L = Laba bersih sebelum pajak
B = T + VX P = Pendapatan Total
Sehingga: B = Biaya Total
L = HX - T - VX H = Harga jual per unit
X(H - V) = L + T X = Unit atau volume produk
yang X = (L+T)/(H-V) T = Biaya tetap total
V = Biaya variabel per unit
3.2 Analisis CPV dalam JIT
Rumus biaya dalam JIT dapat digambarkan sebagai berikut:
B = T + V1X1 + V3X3
B = Biaya Total X1 = Jumlah unit
T = Biaya tetap X3 = Jumlah kegiatan
V1 = Biaya variabel berdasar unit penjualan (berdasar unit)
V3 = Biaya variabel berdasar non unit
4. Titik Impas
Titik impas adalah suatu keadaan dimana perusahaan tidak mendapat laba maupun rugi.jadi dapat dikatakan kondisi pendapatan perusahaan dalam keadaan seimbang.
1.1 Sistem Konvensional
X = (I + F)/(P - V)
Dalam hal ini:
X = Unit produk yang harus dijual untuk mencapai laba tertentu
I = Laba sebelum pajak penghasilan
F = Total biaya tetap
P = Harga jual per unit
V = Biaya variabel per unit
4.2 Sistem JIT
X1 = (I + F1 + X2V2)/(P - V1)
Dalam hal ini:
X1 = Unit produk yang harus dijual untuk mencapai laba tertentu
I = Laba sebelum pajak penghasilan
F1 = Total biaya tetap
X2 = Jumlah kuantitas berbasis nonunit
V2 = Biaya variabel per basis non unit
P = Harga jual per unit
V1 = Biaya variabel per unit
4.2 Sistem JIT
X1 = (I + F1 + X2V2 )/(P - V1)
Dalam hal ini:
X1 = Unit produk yang harus dijual untuk mencapai laba tertentu
I = Laba sebelum pajak penghasilan
F1 = Total biaya tetap
X2 = Jumlah kuantitas berbasis nonunit
V2 = Biaya variabel per basis non unit
P = Harga jual per unit
V1 = Biaya variabel per unit
Illustrasi :
PT.KIRANA, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perakitan suku cadang menggunakan dua sistem biaya yang berbeda yaitu:
1. Sistem biaya konvensional
2. JIT
.Sistem biaya konvensional membebankan BOP menggunakan pengarah biaya (cost driver) berbasis unit. Sistem JIT menggunakan pendekatan yang terfokus pada penelusuran biaya dan penentuan harga pokok berbasis aktivitas untuk biaya yang tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan suatu sel pemanufakturan. Untuk mengetahui perbedaan antara kedua metode, berikut ini disajikan data biaya produksi untuk bulan desember 1997 :
ELEMEN BIAYA SISTEM BIAYA
KONVENSIONAL JIT
Bahan Baku
Tenaga kerja langsung
BOP Variabel berbasis unit
BOP Variabel berbasis non unit
BOP tetap langsung
BOP tetap bersama Rp 800
70
90
-
30
100
Rp 1.090 Rp 800
100
20
30
30
20
Rp 1.000
Diminta:
1. Hitunglah jumlah maksimum dari masing-masing sistem biaya yang harus dibayar seandainya perusahaan memutuskan untuk membeli pada pemasok luar.
2. Bila diketahui perusahaan berproduksi pada kapasitas 1500 unit dengan harga jual Rp 1.100, susunlah laporan L/R untuk periode yang bersangkutan
3. Lakukan analisis terhadap kasus tersebut.
Penyelesaian :
1. Jumlah maksimum yang harus dibayar kepada pemasok luar, biasa dianggap sebagai biaya terhindarkan yang harus diputuskan oleh perusahaan tersebut.
Biaya yang dapat dihindarkan:
- Sistem biaya konvensional = Rp 800 + 70 + 90 + 30 = Rp 990
- Sistem biaya JIT = Rp 800 + 100 +30 +20 +30 = Rp 980
2. Laporan L/R
KETERANGAN SIST. KONVENSIONAL SIST. JIT
Penjualan :
( 1500 u x Rp 1.100)
Biaya Variabel :
(Rp 9601) x 1.500 u)
(Rp 8202) x 1.500 u)
Laba Kontribusi
Biaya Tertelusur :
Bi. variabel berbasis non unit
Bi. tetap langsung
Jumlah Biaya Tertelusur
Laba Langsung Produk Rp 1.650.000
1.440.000
210.000
-
45.000
45.000
165.000 Rp 1650.000
1.230.000
420.000
45.0003)
195.004)
240.000
180.000
1) Rp 800 + Rp 70 + Rp 90 = Rp 960
2) Rp 800 + Rp 20 = Rp 820
3) Rp 30 x 1.500 u = Rp 45.000
4) (Rp 100 + Rp 30) x 1.500 u = Rp 195.000
3. Sistem penentuan harga pokok konvensional menyediakan laporan yang menunjukkan profitabilitas produk sedangkan sistem JIT menunjukkan adanya efisiensi karena JIT dapat mengubah beberapa jenis biaya mis: Biaya tenaga kerja langsung menjadi biaya tetap langsung.
MEMBUAT RENCANA BISNIS
MASUKKAN NAMA BISNIS ANDA
Masukkan nama Anda
Masukkan tanggal sekarang
BAGIAN 1: PROFIL BISNIS
• Keterangan Bisnis saya
• Pasar dan Nasabah yang Menjadi Sasaran
• Kecenderungan Pertumbuhan dalam Bisnis ini
• Kekuatan Harga
BAGIAN 2: VISI DAN ORANG
(Sesi 2): Uraikan dengan meyakinkan bahwa Anda berhasrat memiliki komitmen terhadap bisnis baru Anda dan menyadari kenyataan untuk membuat pilihan sulit yang tak dapat dielakkan.
• ORANG
• Pengalaman Kerja yang Terkait dengan Bisnis yang saya Minati
• Riwayat Hidup Pribadi dan Pendidikan
BAGIAN 3: KOMUNIKASI
• Komputer dan Alat Komunikasi
• Persyaratan Sumberdaya:
• Komunikasi
Telepon
Pager
Faksimile
Komputer
Internet
BAGIAN 4: ORGANISASI
• Organisasi Bisnis
• Konsultan Profesional
• Izin
BAGIAN 5: ASURANSI
• Asuransi
BAGIAN 6: TANAH DAN BANGUNAN
• Kriteria Lokasi
BAGIAN 7: AKUNTANSI DAN ARUS KAS
• Akuntansi
• Rencana Arus Kas
• Analisis Biaya
• Pengendalian Intern
BAGIAN 8: PEMBIAYAAN
Strategi Pembiayaan
Buatlah daftar sumber referensi beberapa lembaga pemberi peminjaman. (Akuntan Anda dll.)
BAGIAN 9: E-COMMERCE
• Rencana E-Commerce
• Anggaran E-Commerce
• Kompetisi E-Commerce
BAGIAN 10: AKUISISI
• Prosedur Penyelidikan Mendalam untuk Akuisisi
BAGIAN 11: PEMASARAN
• Rencana Pemasaran
• Rencana Iklan dan Promosi
• Kebijakan Pelatihan
• Kompetisi
• Bagaimana Saya Merencanakan Mengambil Keuntungan dari Kelemahan Kompetitor
BAGIAN 12: PROGRAM PERTUMBUHAN
• Ekspansi
• Penanganan Masalah Utama
• Anda ingin menanggapi mereka.
MENDORONG PILIHAN KARIR BERWIRAUSAHA PADA MAHASISWA GUNA MENGENTASKAN
PENGANGGURAN TERDIDIK DI INDONESIA
Mery Citra. S
Semakin meningkatnya jumlah pengangguran terdidik di Indonesia, salah satunya
disebabkan oleh enggannya lulusan perguruan tinggi untuk berwirausaha. Menjadi wirausaha
seringkali dipandang sebagai pilihan karir yang tidak terlalu disukai karena dihadapkan pada
situasi keseharian yang tidak pasti, penuh rintangan, dan frustasi berkaitan dengan proses
pendirian usaha baru. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan
mempengaruhi persepsi orang terhadap karir kewirausahaan.
yang mendorong berkembangnya kebutuhan berprestasi dalam diri mahasiswa.
Key words: Pengangguran terdidik, Kewirausahaan, Pendidikan kewirausahaan, Karir,
Kebutuhan berprestasi.
1. Pendahuluan
Masalah pengangguran merupakan salah satu masalah penting di suatu negara, demikian
halnya di Indonesia. Pengangguran di Indonesia, hampir separuhnya disumbangkan oleh lulusan perguruan tinggi yang jumlahnya sangat banyak. Fenomena ironis yang muncul di dunia pendidikan di Indonesia adalah semakin tinggi pendidikan seseorang, probabilitas atau
kemungkinan dia menjadi penganggur pun semakin tinggi.
2. Kewirausahaan
2.1 Pengertian Kewirausahaan
John Kao (1991:14) dalam Sudjana (2004:131) menyebutkan bahwa “Kewirausahaan
adalah sikap dan perilaku wirausaha”. Wirausaha ialah orang yang inovatif, antisipatif, inisiatif, pengambil risiko dan berorientasi laba. Ini berarti kewirausahaan merupakan sikap dan perilaku orang yang inovatif, antisipatif, inisiatif, pengambil risiko dan berorientasi laba.
Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam
menangani usaha atau kegiatan yang mengarah kepada upaya mencari, menciptakan,
menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar
2.2 Karakteristik Wirausaha
Menurut Izedonmi dan Okafor (2007), individu berkarakteristik wirausaha memiliki
kemampuan untuk mengidentifikasi peluang dan menggerakkan sumber daya untuk mencapai
tujuannya. Menurut Koh (1996) sebagaimana dikutip dalam Izedonmi dan Okafor (2007),
karakteristik wirausaha diidentifikasi sebagai inti utama perilaku dan kinerja seorang wirausaha.
2.3 Pendidikan Kewirausahaan
Kewirausahaan merupakan jiwa dari seseorang yang diekspresikan melalui sikap dan
perilaku yang kreatif dan inovatif untuk melakukan suatu kegiatan. Dengan demikian, perlu
ditegaskan bahwa tujuan pembelajaran kewirausahaan sebenarnya tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pebisnis atau business entrepreneur, tetapi mencakup seluruh profesi yang didasari oleh jiwa wirausaha atau entrepreneur.
3. Dorongan untuk berwirausaha sebagai pilihan karir
Gilad dan Levine (dalam Segal, Borgia and Schoenfeld, 2005) mengemukakan dua teori
berkenaan tentang dorongan untuk berwirausaha, “push” theory dan “pull” theory. Menurut
“push” theory, individu di dorong (push) untuk menjadi wirausaha dikarenankan dorongan
lingkungan yang bersifat negatif, misalnya ketidakpuasan pada pekerjaan, kesulitan mencari
pekerjaan, ketidak lenturan jam kerja atau gaji yang tidak cukup. Sebaliknya, “pull” theory
berpendapat bahwa individu tertarik untuk menjadi wirausaha karena memang mencari hal-hal berkaitan dengan karakteristik wirausaha itu sendiri, seperti kemandirian atau memang karena yakin berwirausaha dapat memberikan kemakmuran.